Logo

berdikari BERITA LAMPUNG

Jumat, 08 Mei 2026

Ancaman Tikus di Metro Barat Jadi Alarm Penting

Oleh Arby Pratama

Berita
Ancaman Tikus di Metro Barat Jadi Alarm Penting. Foto: Ist.

Berdikari.co, Metro - Polemik serangan hama tikus yang sebelumnya disebut mengancam puluhan hektare sawah di Kecamatan Metro Barat akhirnya mendapat tanggapan dari pihak Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Metro Barat.

Koordinator Penyuluh (Korluh) BPP Metro Barat, Maidasari, membantah anggapan bahwa serangan hama tikus telah meluas secara masif di seluruh wilayah Metro Barat.

Menurutnya, kerusakan parah hanya terjadi di titik-titik tertentu dan salah satu yang paling terdampak berada di lahan milik petani bernama Laswanto di Kelurahan Ganjar Asri.

"Jadi tadi kami mengadakan gerakan pengendalian gropyokan tikus di hamparan sawah Pakde Laswanto. Memang kondisi sawah itu tidak bersih, maksudnya sanitasi lingkungan sawahnya bongkor, bisa jadi sarang tikus,” kata Maidasari, seperti dikutip dari kupastuntas.co, Jumat (8/5/2026).

Ia menjelaskan, kondisi lahan yang kurang terawat menjadi salah satu faktor utama berkembangnya populasi tikus di area persawahan tersebut.

Menurutnya, sawah dengan gulma tinggi, pematang yang tidak dibersihkan, hingga tumpukan rumput liar sangat berpotensi menjadi tempat persembunyian sekaligus sarang hama tikus.

"Memang sekitar 50 persen itu terkena serangan hama tikus, tapi cuma Pak Laswanto saja, luasnya sekitar 0,36 hektare,” ujarnya.

Pernyataan itu sekaligus menjadi klarifikasi atas keluhan sejumlah petani sebelumnya yang menyebut serangan tikus sudah meluas hingga puluhan hektare sawah di Metro Barat. Maidasari dengan tegas menyebut informasi tersebut tidak benar.

"Nggak benar, nggak benar, salah mas. Jadi kirinya Pak Laswanto ada tanaman padi itu tidak terserang. Hanya tempat Pak Laswanto, yang kebetulan beliau tanam duluan terus dibiarkan lingkungannya, jadi serangan tikusnya memang luar biasa. Di hampir 50 persen kena serangan hama tikus,” tegasnya.

Ia mengungkapkan, pihak dinas sebenarnya telah melakukan berbagai langkah antisipasi sejak awal munculnya potensi serangan hama. Salah satunya melalui gerakan gropyokan tikus massal yang dilakukan bersama petani di sejumlah wilayah.

"Kemudian dari dinas, kami memfasilitasi belerang dan stik alat pengemposan tikus. Dari dinas dijadwalkan gropyokan tikus hari ini untuk mengendalikan hama tikus,” katanya.

Tak hanya di Ganjar Asri, kegiatan pengendalian tikus juga disebut telah dilakukan di sejumlah kelurahan lain di Metro Barat.

"Kami memberikan jadwal gropyokan tikus di kelurahan lain juga. Kemarin di Kelurahan Mulyosari juga sudah dilakukan gropyokan tikus. Kami kemarin melakukan upaya antisipasi pengendalian hama tikus,” lanjutnya.

Menurut Maidasari, kondisi serangan hama di Metro Barat saat ini masih tergolong spot-spot atau tersebar di titik tertentu, bukan serangan menyeluruh.

"Kalau di Metro Barat memang spot-spot, artinya tidak semua. Misalnya dari setengah bahu itu hanya dua kotak sawah yang terkena, artinya tidak seluruh. Di seluruh kelurahan ada, tapi tidak banyak, tidak sampai puluhan hektare,” jelasnya.

Ia memperkirakan total luas sawah dengan tingkat kerusakan berat akibat serangan tikus di Metro Barat hanya sekitar dua hektare.

"Totalnya sekitar dua hektare untuk di Kecamatan Metro Barat yang rusak 50 persen ke atas. Kalau yang lain itu kan hanya dicicip-cicip,” ungkapnya.

Meski demikian, Maidasari mengakui bahwa musim tanam tahun ini memang rawan terhadap serangan hama tikus. Bahkan kondisi tersebut telah diprediksi sebelumnya oleh penyuluh pertanian.

"Karena memang sekarang ini musimnya serangan tikus, sudah diprediksi. Kemudian mereka tanam ulang kembali, upaya kita sudah kita lakukan dengan menyampaikan ke kelompok-kelompok agar melakukan pengendalian hama tikus,” bebernya.

Dalam kesempatan itu, ia juga menyoroti rendahnya partisipasi sebagian petani dalam kegiatan pengendalian hama yang telah difasilitasi pemerintah. Padahal menurutnya, keberhasilan pengendalian tikus sangat bergantung pada kerja kolektif seluruh petani dalam satu hamparan sawah.

"Kadang-kadang petani itu sendiri yang partisipasinya tidak aktif. Sudah kita jadwalkan dan fasilitasi ternyata yang datang hanya tiga orang,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa pengendalian hama tikus tidak bisa dilakukan secara parsial atau hanya mengandalkan petugas dari dinas pertanian.

"Pengendalian hama tikus itu harus dilakukan secara bersama-sama. Kemudian sanitasi lingkungan sawah juga perlu dilakukan,” sambungnya.

Menurutnya, gulma dan area sawah yang tidak dibersihkan menjadi faktor utama berkembangnya populasi tikus.

"Karena gulungan sawah yang tidak dibersihkan itu bisa menjadi sarang tikus. Pengendalian hama tikus juga harus dilakukan secara rutin, jadi tidak hanya menunggu petugas datang baru dikendalikan,” tandasnya.

Di tengah perbedaan pandangan antara petani dan pihak penyuluh, persoalan serangan hama tikus di Metro Barat kini menjadi perhatian serius masyarakat pertanian.

Di satu sisi, petani mengeluhkan ancaman kerugian dan kerusakan tanaman yang terus meluas. Namun di sisi lain, pemerintah melalui penyuluh pertanian menilai kondisi tersebut masih dapat dikendalikan apabila petani aktif melakukan sanitasi dan pengendalian bersama-sama.

Kini, tantangan terbesar bukan hanya membasmi tikus di hamparan sawah, tetapi juga membangun kesadaran kolektif antara pemerintah dan petani agar ancaman gagal panen tidak benar-benar terjadi di tengah musim tanam yang sedang berlangsung. (*)

Editor Didik Tri Putra Jaya