Berdikari.co, Lampung Barat - Kepala Dapur SPPG Belalau, Andre Renaldo, memastikan pihaknya telah menindaklanjuti keluhan wali murid terkait menu MBG berupa telur yang diterima siswa dalam kondisi belum matang sempurna atau mentah.
Hal itu disampaikan Andre setelah adanya keluhan wali murid terkait kondisi menu MBG berupa telur yang diterima siswa dalam keadaan mentah dan pecah. Ia mengatakan pihaknya sudah menyisir seluruh sekolah penerima MBG tersebut.
Andre Renaldo menjelaskan bahwa telur yang tidak matang sempurna terjadi akibat kendala teknis pada peralatan dapur. Ia menegaskan peristiwa tersebut bukan unsur kesengajaan, terlebih kerusakan hanya terjadi pada beberapa telur saja.
"Memang benar ada beberapa telur yang tidak matang sempurna. Itu terjadi karena mesin steamer kami sempat mengalami kendala teknis,” kata Andre, seperti dikutip dari kupastuntas.co, Jumat (27/2/2026).
Ia menjelaskan gangguan pada mesin steamer tersebut menyebabkan proses pematangan telur tidak berjalan optimal, sehingga beberapa telur masih dalam kondisi mentah dan setengah matang ketika dikemas dan didistribusikan ke sekolah.
"Kami akui ini murni kendala alat, dan kami juga sudah menindaklanjuti permasalahan ini dengan menyisir seluruh sekolah penerima. Namun tetap kami jadikan evaluasi agar ke depan proses pengecekan lebih ketat sebelum makanan dibagikan,” ujarnya.
Ia memaparkan menu MBG yang dibagikan kepada siswa terdiri dari satu buah jeruk, satu buah salak, satu butir telur, satu kotak susu, satu pcs bolu bonita, satu pcs kue bolu, satu pcs roti, serta satu pcs roti sosis. Paket tersebut disiapkan untuk jatah konsumsi siswa selama dua hari.
Setelah menerima laporan dari wali murid dan pihak sekolah, Andre mengatakan pihak SPPG Belalau langsung melakukan langkah cepat dengan mengecek ulang proses produksi di dapur.
"Begitu ada laporan, kami langsung melakukan evaluasi internal dan turun langsung ke sekolah-sekolah untuk memastikan kondisi menu yang diterima siswa,” ungkapnya.
Baca juga : Menu MBG di Belalau Lambar Dikeluhkan, Siswa Terima Telur Mentah dan Pecah
Ia menambahkan tim SPPG Belalau juga melakukan konfirmasi langsung kepada pihak sekolah untuk menanyakan apakah masih ada siswa yang menerima telur dalam kondisi belum matang sempurna.
"Kami minta sekolah mendata jika masih ada siswa yang menerima telur mentah atau setengah matang, supaya bisa kami tindak lanjuti,” jelas Andre.
Andre menegaskan pihaknya berkomitmen mengganti menu MBG apabila masih ditemukan telur yang tidak layak konsumsi pada paket yang diterima siswa.
"Kalau masih ada yang menerima telur mentah, kami pastikan akan diganti di hari berikutnya. Hak siswa tetap kami penuhi,” tegasnya.
Ia menyebutkan pihak sekolah telah menerima penjelasan tersebut dan siap membantu melakukan pendataan siswa terdampak agar proses penggantian menu berjalan lancar tanpa mengurangi esensi program yang berjalan.
Menurut Andre, persoalan menu MBG dengan kondisi telur tidak matang ini baru pertama kali terjadi sejak dapur SPPG Belalau menjalankan program tersebut.
"Ini kejadian pertama, dan tentu menjadi catatan penting bagi kami agar lebih teliti ke depannya,” ujarnya.
Ia memastikan ke depan pihaknya akan memperketat proses pengecekan kematangan makanan sebelum dikemas dan didistribusikan ke sekolah-sekolah.
Selain itu, SPPG Belalau juga akan melakukan pemeriksaan rutin terhadap seluruh peralatan dapur untuk memastikan tidak ada lagi kendala teknis yang berpotensi memengaruhi kualitas makanan.
"Kami berkomitmen menjaga kualitas dan keamanan pangan. MBG ini untuk anak-anak, jadi harus benar-benar aman dan layak konsumsi,” pungkas Andre.
Sementara itu, anggota Satgas MBG Lampung Barat, Marjohan, menyampaikan bahwa pihaknya telah menerima informasi dan pemberitaan terkait keluhan wali murid yang ramai diperbincangkan. Atas hal tersebut, Satgas langsung mengambil langkah klarifikasi untuk memastikan kebenaran informasi yang beredar.
Dari hasil konfirmasi yang dilakukan kepada Kepala SPPG Kenali, pihak SPPG mengakui adanya kesalahan dalam pendistribusian menu MBG, khususnya pada item telur.
Dalam klarifikasi tersebut, pihak SPPG Kenali menyampaikan bahwa memang terdapat beberapa telur yang dibagikan kepada siswa dalam kondisi belum matang sempurna.
Satgas MBG Lampung Barat menyebutkan, setelah kesalahan tersebut diketahui, pihak SPPG langsung bergerak cepat melakukan penggantian menu kepada sekolah-sekolah sasaran yang terdampak.
"Mereka langsung melaksanakan penggantian telur ke sekolah-sekolah sasaran setelah dilakukan konfirmasi,” jelas anggota Satgas.
Namun demikian, Satgas mengungkapkan bahwa proses penggantian belum sepenuhnya tuntas pada hari yang sama. Hal itu disebabkan keterbatasan waktu kegiatan belajar mengajar, terutama pada hari Jumat yang memiliki jam sekolah lebih singkat.
"Beberapa sekolah memang sudah menerima penggantian telur, tetapi belum seluruh siswa mendapatkannya karena sebagian sudah pulang saat penggantian dilakukan,” ungkapnya.
Meski begitu, Satgas memastikan pihak SPPG Kenali telah menyampaikan komitmen untuk menyelesaikan penggantian menu tersebut pada hari berikutnya.
"SPPG memastikan penggantian akan dilakukan di hari selanjutnya dan hal itu sudah dijelaskan kepada pihak sekolah,” lanjutnya.
Satgas MBG Lampung Barat menegaskan akan terus melakukan pemantauan terhadap pelaksanaan program MBG, khususnya terkait kualitas dan keamanan makanan yang dibagikan kepada siswa.
Menurut Satgas, setiap laporan dan keluhan masyarakat akan menjadi bahan evaluasi agar pelaksanaan program MBG berjalan sesuai standar dan tujuan awal pemenuhan gizi bagi siswa.
Satgas juga mengingatkan seluruh pihak penyedia agar lebih teliti dalam proses produksi dan distribusi makanan, mengingat MBG menyasar anak-anak sekolah yang membutuhkan asupan gizi aman dan layak konsumsi.
Dengan adanya klarifikasi dan tindak lanjut tersebut, Satgas MBG Lampung Barat berharap persoalan menu MBG ini dapat diselesaikan dengan baik dan tidak kembali terulang di kemudian hari. (*)

berdikari









