Berdikari.co, Bandar Lampung – Fenomena langit langka berupa Gerhana Bulan Total diprediksi akan menghiasi langit Lampung pada Selasa, 3 Maret 2026. Peristiwa astronomi ini bertepatan dengan bulan suci Ramadan dan dapat disaksikan di hampir seluruh wilayah Indonesia, termasuk Provinsi Lampung.
Observatorium Astronomi Itera Lampung (OAIL) akan melakukan pengamatan ilmiah untuk mendokumentasikan fenomena tersebut. Kegiatan pengamatan dipusatkan di Gedung Kuliah Umum (GKU) 2 Institut Teknologi Sumatera dan dilaksanakan secara terbatas untuk kepentingan akademik dan penelitian.
Peneliti OAIL sekaligus dosen Program Studi Sains Atmosfer dan Keplanetan Institut Teknologi Sumatera, Annisa Novia, menjelaskan gerhana bulan total terjadi ketika Bulan sepenuhnya memasuki bayangan inti Bumi atau umbra.
“Gerhana Bulan Total terjadi ketika Bulan sepenuhnya memasuki bayangan inti Bumi (umbra), sehingga cahaya Matahari tidak langsung mencapai permukaan Bulan. Pada fase ini, Bulan akan tampak berwarna merah tua atau cokelat kemerahan,” jelas Annisa, Jumat (27/2/2026).
Dalam pengamatan tersebut, tim OAIL menyiapkan empat teleskop utama, yakni Meade LX-90 8” f/10 (Schmidt-Cassegrain), Baride Optics A-102 f/10 (Refraktor), Utopia III B, serta Celestron C-11. Perangkat tersebut digunakan untuk observasi visual, dokumentasi, sekaligus pengambilan data penelitian astronomi.
Berdasarkan perhitungan geosentris, tahapan gerhana dimulai dari fase penumbra pada pukul 15.44 WIB, fase sebagian 16.50 WIB, awal totalitas 18.04 WIB, hingga mencapai puncak gerhana pada pukul 18.33 WIB. Totalitas berakhir pukul 19.02 WIB, diikuti akhir fase sebagian pukul 20.17 WIB dan fase penumbra berakhir pada 21.22 WIB.
Namun, kondisi geografis Lampung membuat tidak seluruh fase gerhana dapat diamati dari lokasi Itera. Bulan diperkirakan baru terbit pada pukul 18.12 WIB, sehingga saat terlihat di ufuk timur, gerhana sudah memasuki fase total dan mendekati puncaknya.
"Fase awal (penumbra dan sebagian) tidak dapat diamati dari Itera karena Bulan masih berada di bawah horizon," jelasnya.
Annisa menambahkan, kegiatan pengamatan tidak dibuka untuk masyarakat umum dan hanya diikuti tim peneliti, pengelola observatorium, asisten OAIL, mahasiswa, serta dosen sebagai bagian dari kegiatan akademik.
Meski demikian, masyarakat tetap dapat menikmati fenomena langit tersebut melalui siaran langsung yang disediakan OAIL di kanal YouTube resmi mereka. "Kita mengajak warga menikmati keindahan Gerhana Bulan Total 3 Maret 2026 secara daring dari mana saja," tutupnya. (*)

berdikari









