Logo

berdikari BERITA LAMPUNG

Rabu, 25 Februari 2026

Wali Murid Keluhkan Menu Tak Layak hingga Roti Berjamur di MBG Tanggamus

Oleh Sayuti

Berita
Tampak roti berjamur di menu MBG SD di Tanggamus. Foto: Ist

Berdikari.co, Tanggamus – Pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di sejumlah sekolah dasar di Kabupaten Tanggamus menuai sorotan pada awal Ramadan 1447 Hijriah. Sejumlah wali murid mengeluhkan kualitas menu yang dinilai tidak layak konsumsi setelah ditemukan roti berjamur dalam paket makanan yang dibagikan kepada siswa.

Keluhan tersebut dilaporkan terjadi di beberapa sekolah, di antaranya SDN 1 Tugu Papak Kecamatan Semaka, SDN 1 Kanyangan, SDN 1 Negarabatin, SDN 1 Pulau Benawang Kecamatan Kotaagung Barat, serta sejumlah sekolah dasar di wilayah Kotaagung Timur.

Informasi yang dihimpun Kupas Tuntas, temuan roti berjamur berasal dari paket MBG yang didistribusikan oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Talagening, Kecamatan Kotaagung Barat, pada Selasa (24/2/2026). Foto dan laporan warga kemudian beredar luas di media sosial hingga memicu perhatian masyarakat.

Di SDN 1 Pulau Benawang, salah satu wali murid mengaku kecewa setelah mengetahui makanan yang diterima anaknya tidak layak konsumsi.

"MBG hari ini SDN 1 Pulau Benawang macam apa ini, sudah ada jamurnya kok masih dibagikan,” ujar Neni, salah satu orangtua siswa.

Berdasarkan pantauan di sejumlah sekolah, menu MBG yang dibagikan selama dua hari terakhir bervariasi, mulai dari roti, kurma, telur rebus, buah jeruk, puding, susu kotak, hingga camilan kering. Namun, sejumlah orang tua menilai komposisi tersebut belum mencerminkan menu bergizi seimbang, baik dari sisi protein, serat, maupun standar penyajian makanan.

Salimah, wali murid di Kecamatan Kotaagung Barat, mengaku khawatir terhadap keamanan pangan setelah mendapati roti dalam kondisi berjamur di paket MBG yang diterima anaknya.

"Anak-anak yang mengonsumsi. Harusnya kualitas dan kebersihan diperhatikan, ini roti sudah jamuran masih dibagikan. Coba kalau sampai di makan bisa keracunan," ujarnya.

Selain persoalan kualitas makanan, sejumlah wali murid juga mempertanyakan kesesuaian menu dengan informasi nilai anggaran MBG yang beredar di masyarakat, yakni berkisar Rp10.000 hingga Rp15.000 per siswa per hari.

"Kalau memang anggarannya sebesar itu, seharusnya menu lebih layak, baik dari sisi kualitas maupun penyajian,” kata Lastri, wali murid di Kecamatan Semaka.

Program MBG merupakan kebijakan pemerintah pusat yang bertujuan meningkatkan asupan gizi pelajar. Selama bulan Ramadan, pola distribusi makanan diubah menjadi menu kering yang dapat dibawa pulang untuk dikonsumsi saat berbuka puasa.

Sejumlah tokoh masyarakat di Kabupaten Tanggamus meminta pemerintah daerah bersama pihak pelaksana segera melakukan evaluasi menyeluruh serta memperketat pengawasan terhadap pelaksanaan program, khususnya di tingkat dapur SPPG sebagai pelaksana teknis di lapangan.

"Masyarakat berharap pemerintah segera memberikan klarifikasi sekaligus memastikan program Makan Bergizi Gratis berjalan sesuai tujuan dan standar keamanan pangan," kata tokoh masyarakat Tanggamus, Mas Anom.

Masyarakat berharap evaluasi segera dilakukan agar program yang bertujuan meningkatkan gizi siswa tersebut benar-benar memberi manfaat tanpa menimbulkan risiko kesehatan bagi anak-anak penerima. (*)

Editor Sigit Pamungkas