Berdikari.co,
Bandar Lampung - Anggota Komisi V DPRD Provinsi Lampung, Andika Wibawa,
mengingatkan satuan pelayanan pemenuhan gizi (SPPG) agar tidak memberikan menu
asal-asalan dalam pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) selama bulan
Ramadan.
Andika
mengatakan, selama Ramadan penyaluran MBG dilakukan dua kali dalam sepekan,
yakni setiap hari Senin dan Kamis. Ia menegaskan kualitas makanan harus tetap
menjadi perhatian utama meskipun mekanisme distribusi mengalami penyesuaian.
Menurutnya,
menu MBG selama Ramadan tidak dikonsumsi di sekolah, melainkan dibawa pulang
oleh peserta didik untuk disantap saat berbuka puasa. Karena itu, makanan yang
disiapkan berupa menu kering dan tahan lama.
“MBG
tetap ada selama Ramadan, tetapi tidak dimakan di tempat. Anak-anak bisa
mengkonsumsinya saat berbuka. Menu juga disesuaikan seperti roti, susu, dan
buah yang bisa dinikmati pada malam hari,” ujar Andika, Senin (23/2/2026).
Ia
menilai perbedaan pandangan masyarakat terkait menu MBG selama Ramadan
merupakan hal yang wajar. Namun, tujuan utama program tersebut tetap untuk
memastikan kebutuhan gizi anak terpenuhi, termasuk saat menjalankan ibadah
puasa.
“Namanya
program pemerintah tentu sudah melalui perhitungan dan kajian. Jika niatnya
untuk membantu kebutuhan gizi anak, terutama sebagai tambahan menu berbuka,
tentu patut didukung,” tegasnya.
Andika
menekankan agar SPPG memperhatikan kualitas dan komposisi menu yang diberikan.
Makanan yang dibagikan harus segar, memiliki gizi seimbang, serta sesuai
kebutuhan anak selama berpuasa. Buah-buahan seperti pisang dan apel serta susu
dinilai tepat karena praktis dan tetap bergizi.
“Menu
harus benar-benar diperhatikan. Jangan asal-asalan atau sekadar makanan kering.
Kualitas dan kesegaran harus dijaga, serta kandungan gizinya diperhitungkan
dengan baik,” katanya.
Selain
itu, ia juga mengingatkan pengelolaan anggaran program MBG harus dilakukan
secara transparan dan tepat sasaran. Menurutnya, alokasi dana per porsi wajib
dimanfaatkan sepenuhnya untuk kepentingan pemenuhan gizi peserta didik tanpa
mengurangi kualitas makanan.
“Jika
anggaran per porsi sudah ditetapkan, maka harus digunakan sebagaimana mestinya.
Prioritasnya adalah kebutuhan gizi anak. Jika menu baik dan sesuai, masyarakat
tentu tidak akan mempermasalahkan,” ujarnya.
Ia
berharap penyesuaian menu dan mekanisme distribusi selama Ramadan dapat membuat
program MBG tetap berjalan optimal serta memberikan manfaat nyata bagi peserta
didik tanpa mengurangi kekhidmatan ibadah puasa. (*)

berdikari









