Berdikari.co, Bandar Lampung - Ketua Komisi IV DPRD
Kota Bandar Lampung, Asroni Paslah, meminta Dinas Kesehatan (Dinkes) setempat
menyiapkan langkah konkret dan terukur dalam menekan angka kasus HIV di Kota
Bandar Lampung yang dinilai masih tinggi sepanjang tahun 2025.
Asroni menegaskan, tingginya kasus HIV tidak boleh
dinormalisasi dan harus menjadi peringatan serius bagi pemerintah daerah dalam
memperbaiki tata kelola kesehatan masyarakat.
“Tingginya angka kasus HIV ini tidak boleh dianggap
biasa. Ini peringatan serius yang harus dijawab dengan langkah luar biasa dan
kebijakan yang berdampak langsung bagi masyarakat,” ujar Asroni, Minggu
(22/2/2026).
Menurutnya, Komisi IV DPRD Kota Bandar Lampung menilai
penanganan HIV/AIDS tidak boleh berhenti pada pola kerja rutin maupun program
seremonial semata. Pemerintah daerah perlu memperkuat strategi pencegahan
secara menyeluruh dan berkelanjutan.
Ia mendorong perluasan akses pemeriksaan dan deteksi
dini, jaminan keberlanjutan terapi antiretroviral (ARV), serta pembangunan
sistem edukasi publik yang konsisten agar upaya pengendalian HIV dapat berjalan
lebih efektif.
Asroni juga menekankan bahwa penanggulangan HIV/AIDS
bukan hanya tanggung jawab Dinas Kesehatan. Diperlukan kolaborasi lintas
sektor, mulai dari bidang pendidikan, sosial, kepemudaan, hingga pendekatan
berbasis komunitas.
“Upaya pencegahan harus melibatkan banyak pihak agar
pengendalian HIV dapat dilakukan secara komprehensif dan menyentuh masyarakat
secara langsung,” katanya.
Dalam fungsi pengawasan DPRD, lanjut Asroni, Komisi IV
berkomitmen memastikan seluruh program penanggulangan HIV/AIDS berjalan sesuai
tujuan. Hal itu meliputi penguatan regulasi daerah yang adaptif, pengawalan
anggaran kesehatan agar tepat sasaran, serta pelaksanaan edukasi publik yang
terukur dan berdampak nyata.
Selain aspek kebijakan, ia mengingatkan pentingnya
keseimbangan antara ketegasan regulasi dan pendekatan kemanusiaan. Pemerintah,
menurutnya, harus hadir melindungi kelompok rentan tanpa menimbulkan stigma
sosial terhadap orang dengan HIV/AIDS (ODHA).
Ia pun mengajak seluruh elemen masyarakat memandang
HIV/AIDS sebagai persoalan kesehatan publik yang membutuhkan literasi, empati,
serta langkah pencegahan berkelanjutan.
“Jika kita abai hari ini, beban sosial, ekonomi, dan
kesehatan di masa depan akan jauh lebih berat,” pungkasnya. (*)

berdikari









