Logo

berdikari BERITA LAMPUNG

Sabtu, 30 Agustus 2025

Dua Anak Diduga Keracunan MBG, Ibu Ini Harus Rogoh Kocek 600 Ribu untuk Pengobatan

Oleh Yudi Pratama

Berita
Dua bocah SD yang diduga keracunan saat terbaring lemas di Rumah Sakit. Foto: Ist

Berdikari.co, Bandar Lampung – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diluncurkan oleh pemerintah pusat kembali menuai sorotan. Sejumlah siswa SDN 2 Sukabumi, Kota Bandar Lampung, diduga mengalami keracunan makanan usai menyantap hidangan dari program tersebut. Namun ironisnya, orang tua korban justru harus menanggung sendiri biaya pengobatan, karena layanan BPJS Kesehatan tidak meng-cover pengobatan terkait.

Salah satu wali murid, Lena, mengungkapkan kekecewaannya karena harus membayar biaya perawatan dua anaknya, Arsen (10) dan Kiano (8), yang mengalami muntah, sakit perut, dan diare hingga perlu penanganan medis di RS Urip Sumoharjo.

“Total saya bayar Rp600 ribu untuk infus saja. Mau dirawat inap, tapi kata petugas tidak bisa pakai BPJS, padahal kami terdaftar. Akhirnya saya putuskan membawa anak-anak pulang,” ujar Lena, Sabtu (30/8/2025).

Lena menyayangkan tidak adanya mekanisme perlindungan yang jelas bagi anak-anak yang menjadi korban dugaan keracunan dari program pemerintah tersebut.

“Ini program dari pemerintah. Harusnya mereka atau dinas terkait yang turun langsung, bukan orang tua yang harus menanggung semua,” tegasnya.

Ia mengaku sudah menghubungi pihak sekolah, namun tidak mendapat kepastian soal pertanggungjawaban.

“Pihak sekolah hanya bilang tidak ada dana untuk ganti biaya pengobatan. Jadi siapa yang bertanggung jawab?” ujarnya kesal.

Kepala SDN 2 Sukabumi, Siti Patmawati, mengatakan pihak sekolah telah berusaha semaksimal mungkin dengan melakukan koordinasi ke Dinas Kesehatan dan Puskesmas terdekat.

“Kami arahkan siswa ke puskesmas, dan sudah koordinasi dengan dokter serta pihak terkait,” kata Siti.

Namun, soal biaya pengobatan dan penggunaan BPJS, ia mengaku pihak sekolah tidak dapat berbuat banyak, karena tanggung jawab itu berada di luar wewenang sekolah.

Saat ditanya berapa jumlah total siswa yang terdampak, Siti hanya menyebut bahwa pendataan telah dilakukan oleh Dinas Kesehatan dan Lurah setempat, namun tidak menyebut angka pasti.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, gejala keracunan dialami oleh lebih dari dua siswa. Di kelas 4 tercatat 9 siswa mengalami keluhan, sementara di kelas 2 terdapat 5 siswa. Sebagian sudah dibawa ke rumah sakit oleh orang tua masing-masing.

Tak hanya di SDN 2 Sukabumi, kasus serupa juga diduga terjadi di SMPN 31 Campang Raya, dengan 21 siswa dilaporkan mengalami gejala serupa usai mengonsumsi makanan dari program MBG. Berdikari.co masih berupaya mengonfirmasi pihak sekolah terkait insiden tersebut.

Kasus ini memunculkan pertanyaan serius soal pengawasan kualitas makanan dalam program MBG, serta ketiadaan mekanisme tanggap darurat jika terjadi kejadian luar biasa seperti keracunan massal.

Para orang tua mendesak pemerintah untuk segera turun tangan, baik untuk menginvestigasi dugaan keracunan, maupun memastikan bahwa seluruh korban mendapatkan akses pengobatan yang adil dan layak. (*)


Editor Sigit Pamungkas