Logo

berdikari BERITA LAMPUNG

Rabu, 06 September 2023

3.081 Hektar Sawah di Lamsel Kekeringan, Pringsewu 592 Hektar

Oleh ADMIN

Berita
Poniem, petani di Podosari, Pringsewu, sedang memanen padinya yang mengalami kekeringan, Selasa (5/9/2023). Foto: Berdikari.co

Berdikari.co, Lampung Selatan - Dari 35 ribu lahan persawahan yang ada di Kabupaten Lampung Selatan saat ini, 3.081 hektar diantaranya kini mengalami kekeringan. Sementara di Kabupaten Pringsewu dari 12.525 hektar sawah yang ada, 592 hektar juga mengalami kekeringan.  

Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Makmur Sejati Desa Sidomakmur, Kecamatan Way Panji, Lampung Selatan (Lamsel), Joko mengatakan lahan persawahan seluas 250 hektar di wilayahnya terdampak kekeringan karena adanya fenomena El Nino.

Joko mengatakan, sawah yang mengalami kekeringan itu semestinya akan panen pada bulan September ini. Saat ini petani yang sudah memanen sawahnya baru berkisar 5 persen dengan hasil seadanya karena mengalami kekeringan.

“Jika kondisi normal, rata-rata 1 hektar bisa panen padi sebanyak 6,5 ton sampai dengan 7 ton bahkan hingga 10 ton. Untuk yang tanam awal bulan Juni masih bisa panen. Namun yang tanam pertengahan bulan Juni mungkin hanya bisa panen sekitar 50 persen saja,” kata Joko, Selasa (5/9/2023).

Joko mengatakan, saat ini harga gabah di ladang Rp6.500 per kilogram. Meskipun harga gabah bagus, sayangnya banyak sawah yang mengalami kekeringan.

Kabid Tanaman Pangan pada Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan Lamsel, Eka Saputra menerangkan tanaman padi di Lamsel saat ini ada seluas 35 ribu hektar dan 3.081 diantaranya mengalami kekeringan.

"Sawah yang mengalami kekeringan ini karena kurangnya pasokan air dampak kekeringan. Ia memprediksi produktivitas padi akan mengalami penurunan 15 sampai dengan 20 persen.

"Estimasi kerugian yang timbul jika sawah yang kekeringan ada 3.081 hektar dan per hektar hasil panen bisa mencapai Rp10 juta. Maka kerugian petani bisa mencapai sekitar Rp3 miliar,” kata Eka, Selasa (5/9/2023).

Untuk mencegah dampak kekeringan tidak meluas, ia mengimbau kepada korlup, penyuluh, gapoktan dan poktan memanfaatkan sumber air yang masih ada seperti embung, sumur bor dan sungai Way Sekampung untuk mengairi sawah.

“Dampak El Nino ini hampir merata di semua kecamatan di Lampung Selatan seperti Kecamatan Natar, Tanjung Bintang, Tanjung Sari, Merbau Mataram, Way Sulan, Sidomulyo, Candipuro, Way Panji, Kalianda, Sragi dan Ketapang. Namun yang paling besar terkena dampak di Way Sulan ada 980 hektar sawah yang kekeringan," jelasnya.

Eka menyarankan kepada petani yang melakukan penanaman di musim gadu memanfaatkan program Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP). Sehingga petani yang gagal panen bisa dapat ganti rugi sebesar Rp6 juta per hektar.

Sementara itu, Sekretaris Dinas Pertanian Kabupaten Pringsewu, Mariyanto mengatakan luas lahan sawah terdampak kekeringan di Pringsewu seluas 592 hektar (4,7%) dari total luas tanam pada musim gadu 12.525 hektar.

"Sampai sejauh ini luas lahan yang terdampak kekeringan belum berpotensi mengalami gagal panen. Pada musim tanam gadu 2023 ini produksi padi diperkirakan mencapai 64.623 ton,” kata Mariyanto, Selasa (5/9/2023)

Ia menerangkan, pada musim gadu produktivitas padi sekitar sebesar 4,9 ton sampai dengan 5,2 ton per hektar. “Untuk antisipasi  kekeringan, petani berupaya memanfaatkan sumur bor dan embung sebagai salah satu sumber air untuk mengairi sawah,” katanya.

Mariyanto mengungkapkan, saat musim kemarau seperti saat ini biasanya terjadi penurunan produktivitas padi mencapai 0,5 ton per hektar.

Poniem (57), seorang petani di Pekon Podosari, Kecamatan Pringsewu mengatakan hanya mendapatkan hasil panen padi 6 karung untuk lahan sawah seluas seperempat hektar.

"Saya punya sawah seperempat hektar. Sebelum kemarau saya bisa dapat 20 kandi (karung) padi, tapi sekarang ini hasilnya cuma 6 karung," kata Poniem, Selasa (5/9/2023). (*)

Editor Sigit Pamungkas