Berdikari.co, Lampung Selatan - Dari 35 ribu
lahan persawahan yang ada di Kabupaten Lampung Selatan saat ini, 3.081 hektar
diantaranya kini mengalami kekeringan. Sementara di Kabupaten Pringsewu dari
12.525 hektar sawah yang ada, 592 hektar juga mengalami kekeringan.
Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Makmur
Sejati Desa Sidomakmur, Kecamatan Way Panji, Lampung Selatan (Lamsel), Joko
mengatakan lahan persawahan seluas 250 hektar di wilayahnya terdampak
kekeringan karena adanya fenomena El Nino.
Joko mengatakan, sawah yang mengalami
kekeringan itu semestinya akan panen pada bulan September ini. Saat ini petani
yang sudah memanen sawahnya baru berkisar 5 persen dengan hasil seadanya karena
mengalami kekeringan.
“Jika kondisi normal, rata-rata 1 hektar bisa
panen padi sebanyak 6,5 ton sampai dengan 7 ton bahkan hingga 10 ton. Untuk
yang tanam awal bulan Juni masih bisa panen. Namun yang tanam pertengahan bulan
Juni mungkin hanya bisa panen sekitar 50 persen saja,” kata Joko, Selasa
(5/9/2023).
Joko mengatakan, saat ini harga gabah di
ladang Rp6.500 per kilogram. Meskipun harga gabah bagus, sayangnya banyak sawah
yang mengalami kekeringan.
Kabid Tanaman Pangan pada Dinas Tanaman Pangan
Hortikultura dan Perkebunan Lamsel, Eka Saputra menerangkan tanaman padi di
Lamsel saat ini ada seluas 35 ribu hektar dan 3.081 diantaranya mengalami
kekeringan.
"Sawah yang mengalami kekeringan ini
karena kurangnya pasokan air dampak kekeringan. Ia memprediksi produktivitas
padi akan mengalami penurunan 15 sampai dengan 20 persen.
"Estimasi kerugian yang timbul jika sawah
yang kekeringan ada 3.081 hektar dan per hektar hasil panen bisa mencapai Rp10
juta. Maka kerugian petani bisa mencapai sekitar Rp3 miliar,” kata Eka, Selasa
(5/9/2023).
Untuk mencegah dampak kekeringan tidak meluas,
ia mengimbau kepada korlup, penyuluh, gapoktan dan poktan memanfaatkan sumber
air yang masih ada seperti embung, sumur bor dan sungai Way Sekampung untuk
mengairi sawah.
“Dampak El Nino ini hampir merata di semua
kecamatan di Lampung Selatan seperti Kecamatan Natar, Tanjung Bintang, Tanjung
Sari, Merbau Mataram, Way Sulan, Sidomulyo, Candipuro, Way Panji, Kalianda,
Sragi dan Ketapang. Namun yang paling besar terkena dampak di Way Sulan ada 980
hektar sawah yang kekeringan," jelasnya.
Eka menyarankan kepada petani yang melakukan
penanaman di musim gadu memanfaatkan program Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP).
Sehingga petani yang gagal panen bisa dapat ganti rugi sebesar Rp6 juta per
hektar.
Sementara itu, Sekretaris Dinas Pertanian
Kabupaten Pringsewu, Mariyanto mengatakan luas lahan sawah terdampak kekeringan
di Pringsewu seluas 592 hektar (4,7%) dari total luas tanam pada musim gadu
12.525 hektar.
"Sampai sejauh ini luas lahan yang
terdampak kekeringan belum berpotensi mengalami gagal panen. Pada musim tanam
gadu 2023 ini produksi padi diperkirakan mencapai 64.623 ton,” kata Mariyanto,
Selasa (5/9/2023)
Ia menerangkan, pada musim gadu produktivitas
padi sekitar sebesar 4,9 ton sampai dengan 5,2 ton per hektar. “Untuk
antisipasi kekeringan, petani berupaya memanfaatkan sumur bor dan embung
sebagai salah satu sumber air untuk mengairi sawah,” katanya.
Mariyanto mengungkapkan, saat musim kemarau
seperti saat ini biasanya terjadi penurunan produktivitas padi mencapai 0,5 ton
per hektar.
Poniem (57), seorang petani di Pekon Podosari,
Kecamatan Pringsewu mengatakan hanya mendapatkan hasil panen padi 6 karung
untuk lahan sawah seluas seperempat hektar.
"Saya punya sawah seperempat hektar.
Sebelum kemarau saya bisa dapat 20 kandi (karung) padi, tapi sekarang ini
hasilnya cuma 6 karung," kata Poniem, Selasa (5/9/2023). (*)

berdikari









