Berdikari.co, Bandar Lampung - Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) mencatat ada 4 juta anak di Indonesia tidak sekolah.
Dari total angka itu, daerah yang paling banyak terdapat anak tidak sekolahnya adalah Jawa Barat dengan sebanyak 106.196 anak.
"Terkait dengan sebaran anak tidak sekolah, ini hampir semua provinsi ada anak tidak sekolah, angka tertinggi itu di Jawa Barat, secara sebaran jumlahnya itu ada 106.196," kata Direktur Pendidikan Khusus dan Pendidikan Layanan Khusus Kemendikdasmen, Saryadi, dikutip dari Kompascom, Senin (27/4/2026).
Setelah Jawa Barat, daerah dengan jumlah anak tidak sekolah terbanyak berikutnya, adalah Jawa Tengah 59.000 dan Jawa Timur 53.000.
Sementara daerah dengan jumlah anak tidak sekolah paling rendah adalah Papua Pegunungan 208 anak, kemudian Papua Barat Daya 264 anak, dan Papua Selatan 755 anak.
"Sedangkan yang terendah itu ada di Papua Pegunungan, itu tercatat hanya 208, kemudian Papua Barat Daya 264, Papua Selatan 755," ujarnya, seperti dikutip dari kupastuntas.co.
Oleh karena itu, pemerintah kata Saryadi, mengadakan sistem pembelajaran jarak jauh (PJJ) untuk menjangkau anak-anak yang tidak sekolah. Nantinya anak-anak bisa mengikuti PJJ di 20 sekolah induk yang sudah ditentukan pemerintah berdasarkan rekomendasi pemerintah daerah.
Sekolah induk itu akan memiliki beberapa sekolah mitra yang juga akan membantu salam pelaksanaan PJJ bagi anak tidak sekolah.
"Maka di tahun 2026 sampai dengan 2027 ini adalah fase pengembangan skala penuh dimana kami mentargetkan untuk pengembangan 34 plus sekolah Indo itu kenapa saya sebut 34 plus," ucapnya.
"Karena 34 ini adalah sekolah Indo di dalam negeri plus 1 yang SILN dalam hal ini SIKK yang tahun lalu sudah dimulai," lanjut dia.
Saryadi juga menjelaskan, nantinya pelaksanaan PJJ akan dilakukan dengan sistem sinkronus dan asinkronus.
Di mana 70 persen dilakukan dengan bahan ajar atau modul, dan sisanya dilakukan dengan pembelajaran tutorial untuk membahas materi mana saja yang memang sulit.
Sistem pembelajaran ini juga diadakan secara fleksibel sehingga tidak mengganggu kegiatan siswa yang misalnya butuh tetap membantu orangtuanya.
Bagi siswa yang berminat ikut nantinya bisa mendaftar secara langsung di laman yang sedang disediakan atau ke sekolah yang memang menjadi sekolah induk. Meski demikian, pihak sekolah tetap akan melakukan jemput bola ke rumah-rumah anak yang memang tidak sekolah. (*)

berdikari









