Berdikari.co,
Bandar Lampung - Ketua Komisi II DPRD Lampung, Ahmad Basuki atau Abas, menyebut
program Makan Bergizi Gratis (MBG) memiliki potensi besar sebagai penggerak
ekonomi daerah.
Ia
mengungkapkan, anggaran yang beredar dari program MBG mencapai sekitar Rp1,1
triliun per bulan di Provinsi Lampung.
“Ini
luar biasa sebagai insentif fiskal di tengah efisiensi birokrasi. Dana tersebut
langsung mengalir dari APBN ke masing-masing dapur MBG yang jumlahnya mencapai
1.120 SPPG di Lampung,” kata Abas saat rapat dengar pendapat bersama Ketua
Satgas Percepatan MBG Saipul, Kepala KPPG, kareg SPPG, hingga korwil SPPG di
ruang rapat Komisi II DPRD Lampung, Senin (20/4/2026).
Menurutnya,
potensi tersebut harus dimanfaatkan secara maksimal untuk meningkatkan
kesejahteraan petani lokal.
“Mayoritas
masyarakat Lampung adalah petani. Kalau ini diarahkan dengan baik, efek
bergandanya akan sangat besar. Jangan sampai justru lebih banyak menggunakan
produk dari luar daerah,” tegasnya.
Abas
juga menyoroti penggunaan bahan pangan dari industri besar yang dinilai tidak
sejalan dengan semangat program MBG.
“Seharusnya
ekosistem lokal dilibatkan, mulai dari koperasi, UMKM, petani, hingga peternak.
Setiap dapur MBG sebisa mungkin mengambil bahan baku dari petani lokal.
Perannya sebagai agregator, mengumpulkan dari produsen kecil,” ujarnya.
Abas
menilai faktor perilaku penerima manfaat juga turut berpengaruh, di mana
anak-anak cenderung memilih makanan (picky eater) sehingga menjadi salah satu
penyebab makanan MBG tidak dikonsumsi.
“Variasi
menu penting agar anak-anak tidak bosan. Ini menjadi tantangan bagi dapur MBG
untuk lebih kreatif,” katanya.
Sementara
itu, Kepala Regional SPPG Lampung, Gede, mengakui efek pengganda (multiplier
effect) dari program MBG memang belum berjalan optimal. Hal ini disebabkan
kewenangan pengadaan bahan pangan berada di tangan mitra atau yayasan pengelola
dapur.
“SPPG
sifatnya hanya mengimbau. Mitra yang memiliki kewenangan untuk pengadaan bahan
pangan, dan selama ini belum banyak yang terhubung dengan perekonomian daerah,”
ujarnya.
Untuk
itu, pihaknya mendukung penuh rencana kerja sama antara SPPG dan lembaga ekonomi
desa sebagai solusi untuk memperkuat keterlibatan pelaku lokal.
Saat
ini, lanjut Gede, pemerintah juga tengah mengumpulkan data kebutuhan bahan baku
di setiap wilayah di Lampung guna memetakan potensi dan kebutuhan pasar.
“Kami
sedang menghitung kebutuhan bahan baku per periode. Hampir semua komoditas
sebenarnya tersedia di Lampung, seperti beras, sayuran, dan telur. Hanya untuk
susu memang masih terbatas,” jelasnya.
Dengan
adanya skema kemitraan yang sedang disiapkan, ia berharap perputaran ekonomi dari
program MBG dapat lebih dirasakan oleh masyarakat lokal, khususnya petani dan
pelaku usaha desa. (*)

berdikari









