Logo

berdikari BERITA LAMPUNG

Rabu, 22 April 2026

606 Bencana Terjadi di Lampung, 10 Orang Meninggal dan 11 Hilang

Oleh ADMIN

Berita
Analis Bencana BPBD Provinsi Lampung, Wahyu Hidayat. Foto: Berdikari.co

Berdikari.co, Bandar Lampung - Sebanyak 606 kejadian bencana alam dan bencana non alam terjadi di Provinsi Lampung sepanjang tahun 2026. Akibat bencana itu, tercatat 10 orang meninggal dunia dan 11 orang dinyatakan hilang.

Berdasarkan data dikutip dari website Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Lampung pada Senin (20/4/2026), bencana alam yang terjadi di didominasi oleh banjir dan angin kencang dari total sebanyak 606 kejadian sepanjang tahun 2026.

Untuk bencana alam, rinciannya 139 bencana banjir, 2 banjir rob, 151 angin kencang, 32 tanah longsor, 2 banjir bandang, 2 banjir disertai longsor, serta 5 kejadian kekeringan. Sementara sisanya adalah bencana non alam seperti orang tenggelam, kebakaran dan sebagainya.

Kota Bandar Lampung menjadi wilayah dengan jumlah bencana tertinggi, yakni 385 banjir, 81 angin kencang, 52 kekeringan, 5 tanah longsor, dan 20 kejadian banjir disertai longsor. Bencana tersebut menyebabkan enam orang meninggal dunia, satu orang hilang, dan empat orang luka.

Kemudian Kabupaten Pesisir Barat dengan 30 kejadian angin kencang. Dari jumlah tersebut, terdapat 6 kejadian yang menimbulkan korban, dengan satu orang meninggal dunia dan lima orang hilang.

Kabupaten Lampung Barat tercatat 9 kejadian banjir, 1 angin kencang, 2 banjir bandang, dan 2 tanah longsor, tanpa korban meninggal dunia.

Kabupaten Tanggamus mengalami tiga kejadian banjir dan dua tanah longsor tanpa korban jiwa.

Kabupaten Pesawaran mencatat 14 kejadian bencana berupa 6 banjir, 7 angin kencang, dan 1 tanah longsor. Seluruh kejadian tidak menimbulkan korban jiwa.

Kabupaten Pringsewu mencatat 21 kejadian banjir dan 11 angin kencang, dengan satu korban hilang. Kabupaten Lampung Utara mengalami 9 kejadian banjir, 4 angin kencang, dan 3 tanah longsor tanpa korban jiwa.

Kabupaten Way Kanan mencatat 5 kejadian banjir dan 3 tanah longsor dengan satu korban luka.

Kabupaten Lampung Selatan mencatat 55 kejadian banjir, 9 angin kencang, 35 banjir rob, dan 1 tanah longsor. Dari kejadian tersebut, dua orang meninggal dunia, empat orang hilang, dan dua orang mengalami luka.

Kota Metro mencatat 4 kejadian banjir dan 1 angin kencang tanpa korban meninggal. Kabupaten Lampung Tengah mengalami 11 kejadian banjir, 1 angin kencang, dan 7 tanah longsor tanpa korban jiwa.

Kabupaten Tulang Bawang Barat mencatat 6 kejadian banjir dan 2 angin kencang tanpa korban.

Kabupaten Mesuji mengalami 27 kejadian banjir dan 12 banjir rob tanpa korban jiwa. Kabupaten Tulang Bawang mencatat 7 kejadian angin kencang dan 1 tanah longsor dengan tiga korban luka.

Kabupaten Lampung Timur mengalami 20 kejadian banjir dan 6 angin kencang dengan satu korban meninggal dunia.

Analis Bencana BPBD Provinsi Lampung, Wahyu Hidayat, mengatakan pada bulan Mei Provinsi Lampung akan memasuki fase hidrometeorologi kering.

"Bulan Mei kita akan memasuki fase hidrometeorologi kering, fase el nino akan dimulai sampai September atau bahkan lebih. Waspada ancaman kekeringan yang baru akan memasuki fasenya," kata Wahyu, Senin (20/4/2026).

Ia mengingatkan, kondisi tersebut berpotensi memicu berbagai bencana hidrometeorologi kering, seperti kekurangan air bersih hingga gangguan pada sektor pertanian.

Wahyu meminta petani mulai menyiapkan langkah mitigasi sejak dini. "Petani dapat memanfaatkan asuransi pertanian melalui Gapoktan sebagai langkah antisipasi untuk menekan risiko gagal panen," katanya.

Selain itu, Wahyu juga menyoroti meningkatnya potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) selama musim kemarau panjang.

Ia menyebut, sejumlah wilayah di Lampung yang rawan karhutla perlu meningkatkan kewaspadaan.

"Karhutla sering terjadi di Lampung Timur, terutama di sekitar kawasan Taman Nasional Way Kambas. Selain itu, titik rawan juga terdapat di Mesuji, Way Kanan, dan Tulang Bawang," ujarnya. (*) 

Editor Sigit Pamungkas