Berdikari.co, Bandar Lampung - Sebanyak 606 kejadian bencana alam dan
bencana non alam terjadi di Provinsi Lampung sepanjang tahun 2026. Akibat
bencana itu, tercatat 10 orang meninggal dunia dan 11 orang dinyatakan hilang.
Berdasarkan data dikutip dari website Badan Penanggulangan Bencana Daerah
(BPBD) Provinsi Lampung pada Senin (20/4/2026), bencana alam yang terjadi di
didominasi oleh banjir dan angin kencang dari total sebanyak 606 kejadian
sepanjang tahun 2026.
Untuk bencana alam, rinciannya 139 bencana banjir, 2 banjir rob, 151 angin
kencang, 32 tanah longsor, 2 banjir bandang, 2 banjir disertai longsor, serta 5
kejadian kekeringan. Sementara sisanya adalah bencana non alam seperti orang
tenggelam, kebakaran dan sebagainya.
Kota Bandar Lampung menjadi wilayah dengan jumlah bencana tertinggi, yakni
385 banjir, 81 angin kencang, 52 kekeringan, 5 tanah longsor, dan 20 kejadian
banjir disertai longsor. Bencana tersebut menyebabkan enam orang meninggal
dunia, satu orang hilang, dan empat orang luka.
Kemudian Kabupaten Pesisir Barat dengan 30 kejadian angin kencang. Dari
jumlah tersebut, terdapat 6 kejadian yang menimbulkan korban, dengan satu orang
meninggal dunia dan lima orang hilang.
Kabupaten Lampung Barat tercatat 9 kejadian banjir, 1 angin kencang, 2
banjir bandang, dan 2 tanah longsor, tanpa korban meninggal dunia.
Kabupaten Tanggamus mengalami tiga kejadian banjir dan dua tanah longsor
tanpa korban jiwa.
Kabupaten Pesawaran mencatat 14 kejadian bencana berupa 6 banjir, 7 angin
kencang, dan 1 tanah longsor. Seluruh kejadian tidak menimbulkan korban jiwa.
Kabupaten Pringsewu mencatat 21 kejadian banjir dan 11 angin kencang,
dengan satu korban hilang. Kabupaten Lampung Utara mengalami 9 kejadian banjir,
4 angin kencang, dan 3 tanah longsor tanpa korban jiwa.
Kabupaten Way Kanan mencatat 5 kejadian banjir dan 3 tanah longsor dengan
satu korban luka.
Kabupaten Lampung Selatan mencatat 55 kejadian banjir, 9 angin kencang, 35
banjir rob, dan 1 tanah longsor. Dari kejadian tersebut, dua orang meninggal
dunia, empat orang hilang, dan dua orang mengalami luka.
Kota Metro mencatat 4 kejadian banjir dan 1 angin kencang tanpa korban
meninggal. Kabupaten Lampung Tengah mengalami 11 kejadian banjir, 1 angin
kencang, dan 7 tanah longsor tanpa korban jiwa.
Kabupaten Tulang Bawang Barat mencatat 6 kejadian banjir dan 2 angin
kencang tanpa korban.
Kabupaten Mesuji mengalami 27 kejadian banjir dan 12 banjir rob tanpa
korban jiwa. Kabupaten Tulang Bawang mencatat 7 kejadian angin kencang dan 1
tanah longsor dengan tiga korban luka.
Kabupaten Lampung Timur mengalami 20 kejadian banjir dan 6 angin kencang
dengan satu korban meninggal dunia.
Analis Bencana BPBD Provinsi Lampung, Wahyu Hidayat, mengatakan pada bulan
Mei Provinsi Lampung akan memasuki fase hidrometeorologi kering.
"Bulan Mei kita akan memasuki fase hidrometeorologi kering, fase el
nino akan dimulai sampai September atau bahkan lebih. Waspada ancaman
kekeringan yang baru akan memasuki fasenya," kata Wahyu, Senin
(20/4/2026).
Ia mengingatkan, kondisi tersebut berpotensi memicu berbagai bencana
hidrometeorologi kering, seperti kekurangan air bersih hingga gangguan pada
sektor pertanian.
Wahyu meminta petani mulai menyiapkan langkah mitigasi sejak dini.
"Petani dapat memanfaatkan asuransi pertanian melalui Gapoktan sebagai
langkah antisipasi untuk menekan risiko gagal panen," katanya.
Selain itu, Wahyu juga menyoroti meningkatnya potensi kebakaran hutan dan
lahan (karhutla) selama musim kemarau panjang.
Ia menyebut, sejumlah wilayah di Lampung yang rawan karhutla perlu
meningkatkan kewaspadaan.
"Karhutla sering terjadi di Lampung Timur, terutama di sekitar kawasan
Taman Nasional Way Kambas. Selain itu, titik rawan juga terdapat di Mesuji, Way
Kanan, dan Tulang Bawang," ujarnya. (*)

berdikari









