Berdikari.co, Bandar Lampung - Ketua Komisi II DPRD Provinsi Lampung, Ahmad
Basuki, menyatakan dukungannya terhadap perluasan sawah baru 5.000 hektare di
Lampung.
Meski demikian, Ahmad Basuki menekankan pentingnya menjaga dan
memperhatikan area persawahan yang sudah ada saat ini. Menurutnya, perluasan
lahan harus diimbangi dengan perbaikan infrastruktur pendukung, khususnya
irigasi.
“Di satu sisi perluasan sawah itu penting, tapi sawah yang sudah ada juga
harus dijaga. Seperti di Palas, sawahnya sudah jadi, namun banyak saluran
irigasi yang rusak dan dalam intensitas hujan tinggi justru menyebabkan
banjir,” kata Basuki, Rabu (14/1/2026).
Ia berharap, perluasan lahan pertanian ke depan dibarengi dengan
pembangunan irigasi yang memadai agar tidak merugikan petani.
“Kasihan masyarakat sudah menanam dan mengeluarkan modal, tapi aliran
sungainya tidak bagus dan justru banjir,” imbuhnya.
Selain itu, ia meminta Dinas Ketahanan Pangan Provinsi Lampung
berkoordinasi dengan dinas terkait di kabupaten/kota guna melakukan sosialisasi
program secara menyeluruh kepada masyarakat.
“Tujuannya agar program ini benar-benar dirasakan manfaatnya oleh
masyarakat luas dan tidak hanya berdampak bagi segelintir pihak,” imbuhnya.
Sementara itu, Pemerhati Pertanian sekaligus Widyaiswara Balai Pelatihan
Pertanian Lampung, Ahmad Suryanto, mengingatkan agar program cetak sawah baru
jangan hanya mengejar target luasan, tetapi juga memperhatikan kualitas
konstruksi agar tidak merugikan petani.
Menurutnya, program cetak sawah baru merupakan kebijakan pusat yang patut
didukung selama lahan yang digunakan tersedia dan tidak bermasalah.
“Program cetak sawah ini memang program pusat yang harus kita dukung,
selama lahannya ada dan tidak bermasalah,” ujar Ahmad, Rabu (14/1/2026).
Meski demikian, ia memberikan sejumlah catatan penting berdasarkan
pengalaman lapangan. Ahmad membeberkan, pelaksanaan program optimalisasi lahan
rawa tahun 2024, masih ditemukan banyak masalah dengan kualitas konstruksi yang
kurang maksimal.
“Berdasarkan pengalaman keliling di beberapa daerah, program optimalisasi
lahan rawa tahun 2024 menjadi sawah ditemukan masih banyak titik konstruksinya
kurang maksimal,” katanya.
Ia menegaskan, proyek cetak sawah harus diawasi secara ketat, mulai dari
perencanaan hingga pelaksanaan konstruksi di lapangan.
Ahmad mengingatkan agar pelaksana tidak terburu-buru mengejar target dan
tenggat waktu, yang justru berpotensi menyebabkan kesalahan teknis.
“Proyek ini harus diawasi dengan ketat dan konstruksinya harus benar-benar layak. Jangan sampai karena memburu target dan waktu, konstruksinya jadi salah-salah. Kalau begitu, yang dirugikan adalah petani,” tegasnya. (*)

berdikari









