Berdikari.co, Lampung Timur – Ribuan warga menggelar aksi unjuk rasa besar-besaran di Kantor Balai Taman Nasional Way Kambas (TNWK), Selasa (13/1/2026), menyusul tewasnya Kepala Desa Braja Sri, Darusman, akibat serangan gajah liar beberapa waktu lalu. Aksi ini menjadi puncak kekecewaan warga terhadap penanganan konflik manusia dan satwa liar yang dinilai tak kunjung tuntas.
Sejak pagi, massa mulai berdatangan ke lokasi aksi dengan berjalan kaki maupun menggunakan kendaraan roda dua dan roda empat melalui Jalan Lintas Timur, jalur nasional yang melintasi kawasan tersebut. Pantauan di lapangan, rombongan tiba sekitar pukul 09.00 WIB dengan iring-iringan lebih dari 50 kendaraan, sehingga sempat memperlambat arus lalu lintas di sekitar kawasan TNWK.
Kendaraan peserta aksi dipenuhi spanduk dan atribut protes. Sepanjang jalan menuju kantor Balai TNWK, warga membentangkan berbagai tulisan bernada kritik terhadap pengelola kawasan konservasi. Beberapa di antaranya berbunyi, “Kalau hutannya gundul, gajah cari makan di sawah,” dan “Apa nyawa binatang lebih berharga daripada nyawa manusia.”
Spanduk lain menyoroti keresahan petani akibat seringnya gajah liar merusak tanaman dan masuk ke permukiman. “Gajah liar jangan sampai masuk perladangan warga lagi,” tulis salah satu poster yang dibawa massa.
Warga menuntut pihak TNWK bertanggung jawab dan segera mengambil langkah konkret untuk mencegah gajah liar keluar dari habitatnya dan memasuki wilayah permukiman serta lahan pertanian. Mereka menilai selama ini penanganan konflik satwa belum maksimal dan cenderung berulang tanpa solusi jangka panjang.
Sementara itu, aparat keamanan melakukan pengamanan ketat untuk mengantisipasi potensi gangguan keamanan dan kemacetan lalu lintas. Sejak pukul 08.00 WIB, sebelum massa tiba, Polres Lampung Timur telah menggelar apel kesiapan pengamanan di halaman Kantor Balai TNWK.
Apel dipimpin Kepala Bagian Operasi Polres Lampung Timur, Kompol Edy Kurniawan, dan diikuti personel gabungan dari TNI, Polri, serta Polisi Kehutanan.
Dalam arahannya, Kompol Edy menekankan pentingnya sikap profesional dan pendekatan persuasif kepada peserta aksi.
“Jangan mudah terpancing emosi. Laksanakan pengamanan dengan kepala dingin dan tetap humanis,” tegas Kompol Edy di hadapan peserta apel.
Ia juga mengingatkan bahwa lokasi unjuk rasa berada tepat di jalur nasional sehingga berpotensi menimbulkan gangguan lalu lintas. Karena itu, rekayasa arus kendaraan telah disiapkan untuk meminimalkan dampak terhadap pengguna jalan.
Kasat Lantas Polres Lampung Timur, AKP Wahyu, mengatakan pengalihan arus lalu lintas dilakukan sementara selama aksi berlangsung, khususnya di Jalan Lintas Timur wilayah Kecamatan Labuhanratu.
“Khusus kendaraan besar kami arahkan untuk melintas melalui jalur Lintas Tengah,” kata AKP Wahyu saat dikonfirmasi di lokasi pengamanan.
Menurutnya, langkah tersebut diambil untuk mengantisipasi kepadatan kendaraan yang diperkirakan meningkat seiring membludaknya jumlah peserta aksi.
AKP Wahyu menjelaskan rekayasa lalu lintas bersifat situasional dan akan terus dievaluasi sesuai perkembangan di lapangan.
“Jika unjuk rasa telah selesai dan situasi dinilai aman serta kondusif, maka arus lalu lintas akan kembali dibuka seperti semula,” ujarnya.
Ia juga mengimbau masyarakat dan pengguna jalan agar mematuhi arahan petugas serta memanfaatkan jalur alternatif yang telah disediakan.
Hingga pukul 09.40 WIB, kondisi Jalan Lintas Timur di wilayah Labuhanratu terpantau relatif sepi dan lancar akibat diberlakukannya pengalihan arus. Massa aksi masih bertahan di sekitar kantor Balai TNWK dengan pengawalan ketat aparat keamanan. Situasi terpantau kondusif meski orasi dan penyampaian tuntutan terus berlangsung. (*)

berdikari









